19 April 2012




Industri televisi di Indonesia sekarang hanya mementingkan selera pasar dan meraup keuntungan besar dari situ tanpa mengindahkan aspek mendidik. Disadari atau tidak, masyarakat kita cenderung dibodohi oleh tontonan di televisi. Yang memprihatinkan, justru acara tersebut diputar di premier time atau pukul 19.00-21.00.

Di waktu-waktu itulah, acara televisi tersebut sering ditonton oleh anak-anak. Kesedihan atau kesialan dieksploitasi untuk menarik simpati penonton. Kita bisa lihat acara-acara reality show remaja yang sama sekali tidak mendidik. Di situ, dipertontonkan bagaimana sepasang muda-mudi pacaran yang bisa bermesra-mesraan di depan umum. Seolah-olah, pacaran itu sudah umum dan sah-sah saja dilakukan. Legitimasi semacam ini sangat memprihatinkan.

Padahal, gaya hidup pacaran itu bisa menghadirkan perbuatan zina yang dilaknat Allah. Yang lebih memprihatinkan, acara valentine tiap tahun dirayakan tidak hanya oleh anak muda, tapi ada pula orang tua dengan ritual memberi bunga ataupun cokelat kepada pasangan. Masya Allah. Sedemikian rupa budaya Barat yang merusak itu telah diadopsi oleh masyarakat awam kita. Bahkan, acara-acara itu menjadi ladang bisnis yang nyata-nyata secara perlahan bisa menghancurkan akhlak seseorang.

Hampir selalu saya perhatikan, di kampung, rumah tetangga, kantor, warung kopi, di mana-mana, acara idol-idol-an makin semarak dengan peminat penonton yang tidak sedikit. Indonesian Idol, misalnya. Ini sangat membuat saya penasaran. Sehingga, saya mencari tahu dari mana asal mula acara yang diadopsi dari American Idol tersebut. Hasilnya?

Saya kaget ternyata kata “idol” itu berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adalah berhala. “Kalau sudah begini, terus piye?” tanya saya di sebuah diskusi pengajian. “Ini jelas pembodohan, ” ujar seorang kawan.

Betapa media sangat berperan dalam membangun stigma kurang mendidik seperti ini. Terutama, acara-acara reality show yang menawarkan menjadi bintang secara instant. Ada satu lagi yang cukup mengusik hati saya. Yakni, acara talent search untuk anak-anak. Gimana tidak? Wong, ada tetangga saya, seorang ibu-ibu, yang saking histerisnya melihat ”idola”nya tereleminasi sampai menangis. Astagfirullah.

Di sini, ada suatu fenomena yang tidak baru, tapi muncul lagi dan masih ampuh memengaruhi penonton. Yakni, air mata. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak di antara finalis talent search di Indonesia (mulai zaman AFI) menjual kisah sedih mereka sebagai bagian dari strategi penjualan yang efektif. Seolah-olah, suara atau kualitas mereka tidaklah cukup untuk dijual kepada masyarakat. Sehingga, semakin tragis kisahnya, semakin menarik untuk dijual. Banyak variasi kisah sedih yang dijual. Mulai keluarga yang miskin sampai harus menjual becak demi ongkos ke Jakarta, bekas korban kerusuhan, keluarga tidak harmonis, single-parent, dan lain-lain. Masya Allah.

Hasilnya? Sukses dan tenar sesaat. Ada jebolan talent search yang bisa bertahan menjaga ketenarannya bukan karena skill yang dimiliki, tapi lebih karena fisikal semata. Ada pula yang terjerat utang hingga jutaan atau puluhan juta hanya untuk mengirimkan SMS demi memenangkan voting. Nah, sekarang kalau anak-anak yang mengikuti talent search itu, secara tidak sadar mereka telah dieksploitasi demi keuntungan program atau media yang menayangkannya.

Haruskah anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya di saat mereka masih harus menikmati masa anak-anaknya? Haruskah budaya Barat yang meracuni masyarakat semacam itu hanya kita biarkan? Karena itu, pendidikan agama begitu penting berperan di sini. Fondasi Islam harus ditanamkan kepada generasi muda, terutama sejak dini.

Rasulullah bersabda, ”Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika sampai berusia sepuluh tahun mereka tetap enggan mengerjakan shalat.” (HR Abu dawud dan al-Hakim). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan lewat Ibnu Abbas ra,

Rasulullah juga bersabda, “Taatlah kepada Allah dan takutlah berbuat maksiat kepada Allah serta suruhlah anak-anak kamu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Sebab, hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari siksa neraka.” Jelas sudah lewat hadis di atas bahwa pendidikan akhlak dan agama harus dberikan kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya, agar anak-anak kita, generasi Islami mendatang, tidak mudah terjerumus terhadap hal atau acara yang tidak mendidik. Indonesia, please be objective and never fall into the same trap again.

sumber: OASE IMAN ERAMUSLIM.COM


Benjamin Franklin merupakan salah seorang penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (4 Juli 1776). Dalam sejarah Amerika, nama Benjamin Franklin menempati tempat yang harum sebagaimana nama George Washington dan penandatangan Deklarasi Kemerdekaan AS lainnya. Benjamin Franklin merupakan salah seorang The Founding Fathers Amerika Serikat, seorang freemason, dan juga penghubung antara gerakan kemerdekaan Amerika Serikat dengan pemodal Yahudi ternama Eropa, Sir Mayer Amschell Rotschild.
Benjamin Franklin lahir di Milk Street, Boston, pada tanggal 17 Januari 1706 dari ayahnya yaitu Josiah Franklin yang menikah dua kali. Benjamin adalah anak bungsu dari 17 bersaudara, dari dua pernikahan ayahnya tersebut. Benjamin sudah tidak bersekolah di usia sepuluh tahun. Dua tahun kemudian dia magang di penerbitan milik James, kakaknya sendiri, yang menerbitkan surat kabar New England Courant. Di tempatnya bekerja, Benjamin menjadi kontributor dan kemudian editor. Suatu hari Ben bertengkar dengan James, akhirnya Benjamin kabur ke New York, lalu ke Philadelphia pada Oktober 1723.

Benjamin Franklin merupakan tokoh Amerika Serikat yang banyak meninggakan karya di dalam hidupnya. Franklin adalah orang dengan banyak jenis pekerjaan dan keahlian, dia seorang jurnalis, penerbit, pengarang, filantrofis, abolisionis, birokrat, negosiator, ilmuwan, diplomat, dan penemu sekaligus!
Kontak Rothschild
Ketika Amerika Serikat masih menjadi daerah jajahan Inggris dengan dibagi-bagi menjadi 13 wilayah koloni, Franklin menemui sejumlah pemodal Yahudi berpengaruh di London. Robert L. Owen, mantan Kepala Komisi Bank dan Keuangan Kongres AS, mencatat dalam Dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33, yang melaporkan tentang pertemuan antara Benjamin Franklin dengan wakil-wakil perusahaan Rothschild di London. Di dalam pertemuan tersebut, orang-orang Rothschild bertanya kepada Franklin hal-hal apa yang bisa dibantu untuk membuat perekonomian koloni Amerika bisa maju.
Militer Yahudi Amerika pada perang Dunia II
Franklin menjawab, “Masalah itu tidak sulit. Kita akan mencetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh industri yang kita miliki.” Jawaban Franklin sangat melegakan Rothschild. Daya penciuman bisnisnya yang tajam membuat konglomerat Yahudi itu melihat keuntungan yang sangat besar di koloni Inggris itu. Namun Inggris masih melarang mencetak uang sendiri di daerah koloninya tersebut hingga beberapa tahun kemudian baru Dollar dicetak.
Benjamin Franklin merupakan tokoh Freemasonry London, yang menjalin kontak sangat dekat dengan Rothschild, otak dari pihak Konspirasi Yahudi Internasional. Namun lama kelamaan, setelah melihat dengan mata kepala sendiri berbagai perkembangan yang tidak menguntungkan Amerika Serikat, sebuah negara yang ikut dibidaninya, terutama terkait perkembangan kaum Yahudinya serta penguasaan kaum ini atas sendisendi perekonomian, maka Franklin sadar bahwa selama ini dia telah berbuat salah. Kaum Yahudi yang dulu begitu dekat dengannya ternyata tidak ubahnya lintah darah yang mampu mengisap dengan amat rakus dan buas, segala sumber daya alam dan manusia Amerika Serikat. Franklin pun berlepas diri dari gerakan Freemasonry dan berusaha dengan gigih, tak kenal takut, untuk memperingatkan rakyat Amerika Serikat tentang bahayanya orang-orang Yahudi di Amerika.
Salah satu upaya Benjamin Franklin yang fenomenal dan dicatat dalam sejarah Amerika sendiri adalah surat ramalannya tentang Yahudi di Amerika. Inilah surat peringatan dari Benjamin Franklin:
Di sana ada bahaya yang amat menakutkan yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang Yahudi. Di bumi mana pun Yahudi berdiam, mereka selalu merusak tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial. Mereka hidup mengisolasi diri, dan berusaha mencekik leher keuangan penduduk pribumi, seperti yang terjadi di Portugal dan Spanyol.
Sejak lebih 1700 tahun, orang Yahudi mengeluhkan nasib yang mereka alami, karena mereka telah diusir dari bumi kelahiran nenek moyang mereka. Perlu diketahui wahai saudara sekalian, seandainya dunia berbudaya sekarang memberi mereka tanah Palestina, mereka akan segera mencari alasan untuk tidak kembali ke sana. Mengapa? Mereka tidak lain adalah Vampir pengisap darah. Dan seekor vampir tidak akan bisa hidup dengan vampir lainnya. Orang Yahudi tidak bisa hidup bersama mereka sendiri. Mereka harus hidup bersama orang Kristen atau bangsa-bangsa yang bukan golongan mereka.
Jika bangsa Yahudi tidak disingkirkan dari Amerika dengan kekuatan Undang-Undang, maka dalam masa 100 tahun mendatang mereka akan menguasai dan menghancurkan kita dengan mengganti bentuk pemerintahan yang telah kita perjuangkan dengan darah, harta, nyawa, dan kemerdekaan pribadi kita. Seandainya bangsa Yahudi itu tidak diusir dari Amerika, maka dalam waktu 200 tahun mendatang anak cucu kita nanti akan bekerja di ladang-ladang untuk memberi makan orang-orang Yahudi itu. Sementara itu, Yahudi akan menghitung-hitung uang dengan tangan mereka di berbagai perusahaan keuangan.
Aku ingatkan Anda sekalian. Kalau Anda tidak menyingkirkan Yahudi dari Amerika untuk selamanya, maka anak cucu dan cicit kalian akan memanggil-manggil nama kalian dari atas liang kubur kalian kelak. Pikiran yang ada di benak orang Yahudi tidak sama seperti yang pada orang Amerika. Meski pun mereka hidup bersama kita selama beberapa generasi, mereka tidak akan berubah sebagaimana tutul tidak bisa mengubah warna tutul kulitnya. Mereka akan menghapus institusi kita. Oleh karena itu, mereka harus disingkirkan dengan kekuatan konstitusi.”
Surat ini ditulis oleh Benjamin Franklin berkenaan dengan Rencana Undang-Undang tahun 1789 dan dimuat dalam Charles Pinsky Journal, Sout Carolina. Teks aslinya sampai sekarang masih bisa dilihat di Franklin Institute Philadelphia, AS.
sumber





Tepat di hari jatuhnya Yerusalem, Godfroi meresmikan Ordo Biarawan Sion yang memiliki tugas rahasia untuk mencari dan menggali harta karun King Solomon yang dipercaya ditimbun di bawah kompleks Masjidil Aqsha. Agar lebih efektif, duapuluh tahun kemudian Biarawan Sion mendirikan ordo khusus militer yang dinamakan Knights Templar.

Tahun 1096. Apa yang ada di tahun tersebut? Saat itu Eropa atau kaum Frank menyebutnya sebagai The Christendom (Tanah Kristus), baru saja menyelenggarakan Konsili di Clermont, Perancis, yang dilakukan pada tanggal 25 November 1095. Dalam konsili tersebut, Paus Urbanus II berpidato berapi-api menggelorakan apa yang disebutnya ‘Sacrum Bellum” (The Holy War) agar Eropa merebut kembali Tanah Suci Yerusalem dari kekuasaan Islam.

Tak sampai setahun kemudian, ratusan ribu tentara Salib berangkat. Mereka dibagi dalam tiga kelompok besar yang dipimpin Godfroi de Bouillon, King Bohemond, dan King Raymond, dan bertemu di Konstantinopel. Ketika Godfroi de Bouillon berangkat ke Yerusalem, dirinya ditemani sekelompok orang tak dikenal yang bukan sekadar tentara tetapi juga berperan sebagai penasihat dan administrator. Konon, pengiring Godfroi ini merupakan para ksatria misterius yang menganut Kabbalah, cikal bakal dari Ordo Sion dan Templar yang akan dibentuknya beberapa tahun kemudian. Godfroi sendiri merupakan tokoh Kabalis- Yahudi yang memimpin pasukan salib terbesar.
Pada Selasa, 7 Juni 1099, pasukan salib pertama pimpinan Godfroi tiba di depan gerbang Yerusalem. Setahun sebelum pasukan salib tiba di Yerusalem, kekuasaan Dinasti Abbasiyah atas kota suci ini jatuh ke tangan Dinasti Syiah Fathimiyah. Pasukan Syiah yang dikomando oleh para Hashyashyin (Assassin), berhasil merebut Yerusalem dari tangan kaum Sunni. Menurut keterangan pakar sejarah perang salib, Carole Hillenbrand, kuat dugaan antara Syiah Fathimiyah dengan Assassinnya sebenarnya telah menjalin kontak dengan tokoh-tokoh tertentu angkatan salib yang merupakan cikal bakal Templar. Jadi, pertempuran merebut Yerusalem yang terjadi di tahun 1099 hanyalah merupakan pertempuran di tingkat akar rumput, walau berjalan dengan amat dahsyat dengan korban yang amat banyak.
Pada 14 Juli 1099, pasukan Godfroi de Bouillon berhasil merebut Yerusalem. Mereka membunuh semua penduduk Yerusalem. Termasuk orang-orang Yahudi yang selama ini hidup berdampingan dengan umat Islam. Bagi kelompok Kabbalah, orangorang Yahudi yang mau hidup berdampingan dengan Gentilles merupakan pengkhianat.
Tepat di hari jatuhnya Yerusalem, Godfroi meresmikan Ordo Biarawan Sion yang memiliki tugas rahasia untuk mencari dan menggali harta karun King Solomon yang dipercaya ditimbun di bawah kompleks Masjidil Aqsha. Agar lebih efektif, duapuluh tahun kemudian Biarawan Sion mendirikan ordo khusus militer yang dinamakan Knights Templar.
Masa-masa setelah kedatangan para Templar di Istana King Baldwin hingga munculnya Guy Lusignan dalam episode Perang Hattin melawan Shalahuddin al-Ayyubi merupakan rentang waktu yang sangat gelap. Yang diketahui, Templar telah menjelma jadi ordo yang sangat istimewa. Dia tumbuh jadi sangat kaya dan berpengaruh di seluruh Eropa dan juga Yerusalem. Bahkan banyak raja dan bangsawan Eropa berutang padanya.
Setelah Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan Yerusalem pada Juli 1187, Biarawan Sion dan Templar kembali ke Eropa dan banyak yang menjadikan Perancis Selatan sebagai markasnya. Keberadaan Templar di Eropa membuat muak banyak kalangan. Selain tingkah lakunya yang mau menang sendiri, Gereja juga curiga bahwa Templar menjalankan ritual-ritual yang menyimpang. Akhirnya Raja Perancis, King Philip le Bel dan Paus Clemen V bersama-sama menumpas Templar pada 13 Oktober 1307.
Templar banyak melarikan diri ke Skotlandia dan mendapat naungan dari King Robert de Bruce, satu-satunya Raja di Eropa yang tengah di-ekskomunikasikan dari Vatikan. Di Skotlandia, Templar mengganti jubahnya dan menyusup ke dalam gildagilda serikat tukang batu yang bernama Mason. Dalam waktu singkat Mason dikuasai dan diberi nama Freemason. Asrama tempat mereka berkumpul disebut Loji (Lodge). Inilah cikal bakal gerakan Freemasonry dunia.
Di Jerman, pelarian Templar mengganti nama jadi Knights of Teutonik. Di Malta jadi Knights of Rhodes atau Knights of Malta. Di Italia, Spanyol, dan Portugal menjadi Knights of Christ, sebuah kelompok yang mana Colombus, Vasco da Gama, dan pelaut-pelaut ulung Eropa lainnya bergabung. Demikian juga di tempat-tempat lainnya.
Terusir dari Perancis membuat mantan Templar sangat berhati-hati. Mereka menjadi gerakan klandestin yang paling senyap dari pemberitaan. Namun pengaruhnya kian membesar dan bahkan berhasil merekrut pembesar-pembesar Eropa menjadi anggotanya. Lewat berbagai cara mereka menaklukkan Eropa. Inggris dan Perancis sebagai jantung Eropa kala itu telah takluk lewat dua revolusi (Glorious Revolution dan Revolusi Perancis) dan juga peperangan antara Inggris Protestan melawan Perancis Katolik yang berbuntut pada pendirian Bank of England.
Guna mengembangkan dan memperkuat gerakannya, para pewaris Templar ini menganggap mereka memerlukan satu wilayah yang benar-benar baru, tidak di Eropa yang nyaris seluruh daratannya sudah berada di bawah kontrol Gereja, agar lebih leluasa bergerak dan sungguh-sungguh berkuasa.
Mereka ingat bahwa nenek moyang mereka, para Templar di abad ke-14, telah melakukan kontak dagang dengan orang-orang Indian di satu wilayah daratan yang sangat luas di seberang Eropa. Di tanah itu terdapat satu tumbuhan yang belum ditemukan di seantero Eropa. Tumbuhan itu adalah jagung. Kesan ini diabadikan dalam pahatanpahatan di Rosslyn Chapel di Edinburg-Skotlandia.
Maka lewat organisasi pewaris Templar, The Knights of Christ, yang berpusat di Portugal, Italia, dan Spanyol dan bukan kebetulan memusatkan aktivitasnya di dalam pengembangan teknologi kelautan, kelompok Kabalis ini menugaskan The Knights of Christ untuk kembali membuat jalur laut ke daratan yang besar dan belum bernama tersebut—yang kelak akan dinamakan Amerika—guna menjadikan benua baru tersebut sebagai markas besar bagi gerakan Kabbalah hingga akhir zaman menunggu datangnya Raja Israel yang akan memimpin mereka menguasai dunia dalam satu Tatanan Dunia Baru (The New World Order atau Novus Ordo Seclorum).
Misi ini kelak akan dilakukan oleh Christoforo Colombo atau yang dalam bahasa Inggris disebut Christopher Colombus, salah seorang tokoh Knights of Christ yang memiliki mertua seorang pelarian Knights of Templar di Portugis bernama Bartolomeo Perestrello..
sumber

Popular Posts