15 February 2012


Hari Valentine Menurut Pandangan Islam- Pada postingan kali ini saya akan berbagi informasi mengenai pandangan islam mengenai hari valentine. Islam memang mengajarkan kepada sesama umat harus saling mengasihi akan tetapi Islam tidak pernah mengajarkan untuk merayakan Valentine dan hukum merayakan Valentine adalah Haram. berikut penjelasan yang saya dapatkan dari CakFarid.

VALENTINE MENURUT PANDANGAN ISLAM

Tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di backbone orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

Hari Valentine menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.

Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine's Day.

Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di backbone umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi

ketika kita meminta orang menjadi “Valentine Ku”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. gambaran si Chupid (bayi bersayap dengan panah) itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, cuddle bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu admiration biasa.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan accept sex yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna accept sex atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Semoga artikel ini tentang Hari Valentine Menurut Pandangan Islam di atas bisa membuat kita sadar akan banyaknya kekeliruan serta penyimpangan dalam merayakan Hari Valentine Ingat HARAM bagi umat islam !
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

setelah membaca Hari Valentine Menurut Pandangan Islam, Gimana Masih Mau Merayakan Valentine 2012??

Semoga bermanfaat :)
sumber



Berikut di bawah ini merupakan tips atau cara untuk merawat handphone layar sentuh, yang pada dasarnya handphone yang canggih seperti touchscreen itu harus memerlukan perawatan yang extra, Nah, berdasar pada hal itu, di bawah ini saya akan memberikan beberapa Tips Merawat Handphone Touchscreen yang di antaranya saya dapatkan dari sumber-sumber yang bisa di percaya.

Handphone layar sentuh atau touchscreen saat ini sudah tidak asing lagi di dunia elektronika bahkan sudah menjamur dikalangan masyarakat. Tidak hanya handphone saja, sekarang ada berbagai macam alat elektronika yang menggunakan layar sentuh seperti tablet. Dalam penggunaan handphone layar sentuh atau touchscreen kendalanya ada pada layarnya, karena layar handphone layar sentuh atau touchscreen itu menggunakan LCD. Sehingga jika kita melakukan kesalahan dalam menggunakan LCD tersebut akan mengakibatkan LCD itu cepat rusak. Maka dari itu kita harus mengetahui dan merawat LCD itu agar tetap awet dan terjaga.
Berikut ini cara merawat handphone layar sentuh atau touchscreen :

1. Gunakanlah screen protector atau plastik antik gores pada layar handphone.

2. Jauhkanlah handphone dari benda-benda yang mengandung medan magnet seperti radio, televisi,
dan benda-benda lain yang mengandung magnet.

3. Usahakan layar LCD tidak dalam keadaan kotor, dan jika layar itu kotor bersihkanlah dengan
menggunakan tissue atau kain yang halus.

4. Gunakanlah jari telunjuk untuk menggunakan layar, jangan menggunakan kuku untuk mengusap
layar ketika sedang menggunaka karena akan mengakibatkan layar tergores.

5. Hindarkan terkena sinar matahari secara langsung, karena akan merusak kualitas LCD tersebut.

6. Jangan menekan layar terlalu kencang, tekan layar sewajarnya saja.

7. Hindarkan dari tempat yang sempit dan menekan seperti saku celana jeans, karena akan cepat
merusak layar LCD jika terlalu sering menerima tekanan.

Nah itulah beberapa tips atau cara merawat handphone layar sentuh atau touchscreen. Hal yang perlu di ingat, hal apapun dan semahal apapun harganya sangat bergantung pada usaha-usaha kita dalam merawatnya. karena itu, rawatlah dengan baik.

Semoga bermanfaat.
sumber

13 February 2012


Mari kita lihat dan dengar apa yang terjadi hari-hari belakangan ini. Seluruh penjuru kota dan desa di banyak negara sedang dilanda kekisruhan. Di negeri kita sendiri, Indonesia tercinta, sedang lelah memikirkan penduduknya yang kian hari kian membandel. Manusia semakin hari semakin terbawa arus syaithan: duduk di pemerintahan kemudian korup, duduk di lembaga peradilan lalu menerima suap, bahkan dipercaya menyelenggarakan ujian nasional pun malah melegalkan contek massal. Kejujuran dilawan dengan kelicikan, kebenaran dirongrong oleh kesalahan, dan keadilan dikuya-kuya oleh kezhaliman.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

“Dan hendaklah ada diantara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang – orang yang beruntung” (Ali Imran [3] : 104)
Melalui ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyampaikan bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban melakukan da’wah sesuai dengan kemampuan dan bidang keahliannya, apapun profesi, posisi dan jabatannya dan di manapun ia berada. Pada akhir ayat tersebut, Allah berfirman “merekalah orang-orang yang beruntung”, untuk semakin mempertegas bahwa da’wah itu wajib hukumnya bagi kita.

Oleh karena da’wah diwajibkan kepada seluruh manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda dan di manapun kita berada, maka cakupan da’wah tidak terbatas hanya dalam bentuk ceramah saja sebagaimana masyarakat umum memahaminya. Da’wah harus menyentuh semua sektor kehidupan yang nyata. Da’wah secara lisan, da’wah dengan tulisan, dan da’wah dengan amal perbuatan dengan contoh-contoh yang kongkrit adalah lahan garapan kita.

Sekarang, yang kita perlukan adalah kembali menguatkan komitmen da’wah kita (re-installing), agar da’wah tidak menghambar dan sering ‘hang’ digerogoti virus-virus.

Pertama, pahami bahwa da’wah itu fardhu, yang mengakibatkan konsekuensi dosa bagi orang yang tidak melakukannya. Perdebatan mengenai jenis fardhu ini, fardhu ‘ain ataukah fardhu kifayah sudah selesai, dengan kesimpulan bahwa siapaun kita harus turut serta menjalankannya. Kenyataannya adalah hingga kini ummat yang kita hadapi masih memerlukan sentuhan da’wah, sementara wahyu Allah yang memerintahkan untuk berda’wah telah sampai kepada kita.

Kedua, bersihkan memori kita dari pikiran yang kotor, nafsu kebebasan, dan paham yang menyesatkan. Ketika Anda menginstal computer, semua virus dan file aktif yang mencurigakan harus dibersihkan dulu, kalau tidak ingin instalasi Anda gagal karena software Anda kalah oleh virus itu. Orang menjadi enggan berda’wah ketika masih beranggapan bahwa semua agama itu sama benarnya, lalu terjerumus dalam prinsip kebhinekaan dan pluralisme yang salah kaprah.

Ketiga, tanamkan niat dan tujuan yang benar, ikhlas semata mengharap ridha Allah. Niat akan memengaruhi perolehan kita. Ketika kita berda’wah dengan niat karena Allah, niscaya Allah memberi bimbingan sesuai yang dikehendaki-Nya, dan tiadalah Allah berkehendak kecuali yang terbaik. Da’wah dengan niat mencari popularitas, merintis dukungan politik, mencari keuntungan finansial, dan sebgaianya akan menghasilkan apa yang ia niatkan. Tetapi tujuan utama da’wah, yaitu memperbaiki masyarakat, tidak akan terwujud, dan Allah akan memberi peringatan dengan cara-Nya kepada para da’i yang tidak lurus itu.

Keempat, katakan dengan ksatria : “Ini tugas saya”. Keberanian ini mendorong kita untuk mengambil tanggungjawab, mengemban amanah karena merasa terpanggil oleh seruan-seruan Allah. Komitmen da’wah sering lemah disebabkan oleh sebagian dari kita menganggap amanah da’wah adalah “tugas mereka”, yaitu tugas para da’i dan mubaligh yang sering tampil di TV, radio, masjid-masjid, atau pengurus organisasi keislaman.

Kelima, yakini bahwa amanah ini “HARUS”. Apapun juga, selama kita tidak menganggapnya “HARUS”, kita tidak akan tergerak untuk gigih memperjuangkannya. Selain karena alasan fardhu, keharusan berda’wah dilandasi oleh kenyataan bahwa kondisi umat sudah demikian terancam. Keyakinan ini logikanya seperti saat kita sedang berjalan jauh, lalu kelelahan dan duduk di emperan toko. Ketika pemilik toko menyuruh kita pergi, kita masih punya alasan ‘lelah’ untuk tidak melangkah dan tidak merasa harus. Tetapi ketika tiba-tiba anjing menyalak dan menyerang (kita merasa terancam), kita baru benar-benar berlari dan ternyata masih kuat. Kita kuat melakukan sesuatu karena meyakini sesuatu itu HARUS kita lakukan.

Keenam, tidak pernah merasa gagal. Apapaun yang terjadi adalah proses, dan kalaupun usaha kita berhasil, kita bukanlah penikmatnya. Allah dan rasul-Nya menilai apa yang kita perbuat dan niat kita, bukan keberhasilan simbolik yang menjerumuskan manusia pada riya dan ujub. Namun demikian, tidak merasa gagal bukan berarti selalu merasa berhasil. Satu kesuksesan dalam da’wah hanyalah hasil kecil yang akan terus disusul dengan amanah berikutnya.

Ketujuh, senantiasa menjaga dan memelihara ketika komitmen itu sudah tertanam. Penjagaan dapat kita lakukan dengan memperbanyak interaksi dengan Al Qur’an, meningkatkan amal sunnah, memohon kemantapan hati, dan berinteraksi dalam jamaah para da’i yang bersemangat dan optimis. Semangat dan optimisme itu dapat menular, demikian juga dengan kemalasan dan keputusasaan.

Kita hendaknya menjauhkan perasaan ‘sendiri’ dalam berda’wah, dengan cara bersinergi dan membangtun kekuatan kolektif. Misalnya untuk mendirikan TPA di masjid, kita dapat mengajak teman terdekat kita untuk sama-sama merintis. Atau ketika hendak menyelenggarakan aktivitas kerelawanan, kita dapat mengajak kerjasama organisasi relawan yang kita kethui komit terhadap islam.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Ash-Shaff [61]:4)

SUMBER

Popular Posts