06 February 2012

Kebangkitan dan kejayaan Islam masa lalu tidak lepas dari tradisi pelembagaan perpustakaan. Banyaknya perpustakaan masjid yang dibangun pada masa awal Islam adalah bukti yang jelas pentingnya peran perpustakaan masjid bagi Umat Islam. Masjid sendiri adalah sebuah kata berbahasa Arab yang berarti tempat sujud, tetapi masjid tidak bermakna sesempit itu. Sejak zaman Rasulullah SAW sendiri, masjid telah memainkan peran peribadatan, pendidikan, sosial dan bahkan politik. Dengan kata lain masjid bukan hanya sebagai tempat shalat dan tempat berkumpulnya masyarakat. Perpustakaan masjid merupakan manifestasi dari peranan pendidikan dan sosial masjid.

Perpustakaan masjid telah muncul sejak abad VII atau VIII Masehi. Beberapa perpustakaan masjid telah dirintis pertama kali pada waktu itu di Afrika Utara dan Spanyol. Antara tahun 670M(50 H) dan 680M(60 H) di Tunisia telah dibangun sebuah masjid bernama Qayrawan(juga nama sebuah kota) oleh seorang pimpinan militer bernama Uqba Ibn Nafi. Masjid Qayrawan menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan yang terpenting di Afrika Utara saat itu. Pada bagian ruangannya, yang digunakan sebagai perpustakaan, terdapat banyak koleksi buku dan mushaf Alquran hasil sumbangan dair par ulama (sarjana) atau pimpjan negara seperti Hamza al-Andari, al-Muiz ibn Badis dan Ahmad Abi Ayub.

Di kota Tunis juga dibangun masjid Zaytuna pada sekitar tahun 699 M(80 H), yang sekarang dikenal sebagai universitas Zaytuna, oleh Hasan Ibn al-Numan; kemudian diperluas oleh Ubaidillah Ibn al-Habhab pada tahun 734 M(116 H). Masjid ini memiliki dua perpustakaan: perpustakaan Abdaliya dan Ahmadiya. Perpustakaan Abdaliya pad amulanya terpisah dengan masjid tetapi kemudian digabungkan dengan bangunan masjid. Perpustakaan ini juga dikenal dengan nama Sadiqiya, dibangun oleh raja Hafside yaitu Abu Abdullah Muhammad Ibn al-Husain. Koleksi perpustakaan ini lebih dari 5000 manuskrip, yang sekarang menjadi milik Arsip nasional Tunisia. Perpustakaan yang terbesar dan mempunyai koleksi terpenting di masjid zaytuna adalah perpustakaan Ahmadiya. Perpustakaan ini berlangsung hidup sampai periode pemerintahan hafside (1227-1574 M). Koleksinya mencapai puluhan ribu; yang paling terkenal sebagai penyumbang adalah Abu faris Abdul Aziz yang pada tahun 1394 M (797 h) meyumbang perpustakaan Ahmadiya sebanyak 36.000 buah buku.

Ketika Islam menduduki Spanyol (711-1492 M), banyak dibangun masjid beserta perpustakaanya. Salah satu yang paling terkenal adalah masjid agung Cordoba, yang dibangun pada tahun 786 M (170 H) oleh raja Umayah yaitu Abdur Rahman. Sewaktu dibuka perpustakaan masjid ini telah mempunyai sejumlah besar koleksi. Namun sayang koleksi yang banyak dan berharga ini duhancurkan (dibakar) oleh Raja Ferdinand I saat penyerbuan kota pada tahun 1236 M (634 H). Salah satu yang dibakar adalah kopi mushaf Utsmani yang ditulis oleh Khalifah ketiga Utsman bin Affan (meninggal tahun 656 M/ 36 H). Perpustakaan masjid yang lain di Spanyol adalah perpustakaan masjid Byazin di kota Valencia, masjid agung Malaga, Masjid agung seville dan sebagainya.

Di Damaskus juga terdapat banyak perpustakaan masjid; misalnya perpustakaan masjid Umayyad, yang dibangun oleh Khalifah Bani Umayah yaitu Walid ibn Abdul Malik pada tahun 714 M/ 96 H. Masjid Umayyad menjadi kebanggaan besar masyarakat Damaskus. Perpustakaan masjid ini membawahi beberapa perpustakaan di sekolah-sekolah seperti perpustakaan samisatiya (aktif sampai tahun 1421 / 824 H), perpustakaan Bait al-Khitaba (masih aktif pada tahun 1609 M/ 1018 H), perpustakaan fadiliyah (dibangun oleh Ibn al-Qaidal Fadil Ahmad al-Baiqani,meninggal tahun 1254 M/ 643 H), dan perpustakaan Qubbatal al-Mal(yang ditutup tahun 1899 M/1317 H). Perpustakaan lain di Damaskus adalah perpustakaan masjid darb al-Madaniyyin, yang aktif semasa sejarawan besar Ibn Asakir hidup(meninggal tahun 1175 m/ 571 H) dan perpustakaan masjid Yalbagha, yang dibangunn pada tahun 1443 M/ 847 H oleh raja Mamluk yaitu Yalbagha al-Umari.


Masih banyak perpustakaan masjid lainnya seperti di Maroko, Mesir, Iraq, Libya. Algeria dan sebagainya. Sehubungan dengan sejarah perkembangan perpustakaan masjid, Mohamed Makki Sibai menulis detail dalam bukunya yang berjudul "Mosqu Libraries: an Historical Studies (1987).
(Disadur dari "SUARA MASJID" April 1994 hlm. 46-47)

sumber Attribution


Dalam Istilah Alquran, cendekiawan yang bernafaskan Islam disebut dengan istilah Ulul-Albab. Yakni mereka yang mempunyai akal, daya pikir, daya tanggap yang peka, daya banding yang tajam, daya analisa yang tepat, daya cipta yang orisinil, dan semua itu dalam rangka bertakwa kepada Allah SWT.

Belasan ayat Alquran memanggil daya observasi ulul-albab supaya memperhatikan apa yang terjadi dalam lingkungannya, dari lingkungan yang dekat sampai lingkungan yang luas di luar angkasa. Untuk menanggapi segala nikmat Ilahi di penjuru alam semesta, di atas dan di dalam bumi yang penuh berisikan sumber rizki. Menanggapi langit yang gemerlap dihiasi oleh matahari, bulan dan bintang. Menanggapi pertukaran malam dan siang, meneliti dan merenungkan kejadian bumi dan langit.

Semua itu dinamakan "tanda-tanda kebesaran Ilahi untuk ulul-albaab". Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang Ulul Albaab, Yaitu mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, sedang duduk dan berbaring, dan merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi, (sambil berkata) "Wahai Rabb kami, Engkau tidak jadikan itu semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah mereka dari azab neraka". (ali-Imran 190-191).

Begitulah reaksi seorang Ulul-Albaab atau Cendekiwan yang bernafaskan Islam setelah menyaksikan, memikirkan dan merenungkan apa yang ada dan berlaku di sekelilingnya sebagai tanda kebesaran Ilahi.
(Dicuplik kemudian disadur dari Ceramah Mohammad Natsir yang dipublikasikan dalam majalah Suara Masjid bulan Agustus 1989)

sumber
Setidaknya dalam Alquran, kata Ulil Albaab dapat dijumpai dalam 7 ayat, yaitu dalam Albaqarah ayat 197 dan 179, Ali Imran ayat 7 dan 190, Almaidah ayat 100, Ibrahim ayat 52, ArRa'd 19.

Dalam kitab tafsir Jalalain, kata ulil albaab diartikan sebagai orang-orang yang berakal. Sedangkan dalam tafsir abd. Rahim Haris ulil albaab berarti orang yang mempergunakan akalnya secara sempurna. Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa yang dapat mengerti, memahami dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah swt adalah ulil albaab.

Ulil albaab adalah orang-orang yang mempergunakan nalarnya untuk memikirkan dan merenungkan bukti-bukti ciptaan Allah yang kemudian dari bukti itu dijadikan sebagai ilmu pengetahuan untuk mengenal Allah, yang hasilnya menjabarkan ilmu dalam bentuk amal perbuatan sehari-hari sesuai tuntunan Allah.
Rahim Haris menjelaskan bahwa ulil albaab adalah insan-insan pemikir dan cendekiawan-cendekiawan yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Zikrullah (selalu mengingat Allah)
b. Tafakur Terhadap ciptaan Allah
c. Tunduk Kepada Allah
d. Mencari ridhi Ilahi

(sumber: SM 1989, hlm.31)

Read more: Generasi Ulil Albaab - IslamWiki http://islamwiki.blogspot.com/2010/11/generasi-ulil-albaab.html#ixzz1lXPufWqw




Popular Posts